Friday, December 30, 2005

Warna Baru...

satu malam sebelum tahun baru...
sepertinya bakal sama seperti malam-malam lain sebelumnya
langit yang sama, bulan yang sama, juga bintang yang sama

apa yang berubah ya?
aku sendiri gak banyak berubah,
tumbuh pun enggak, kalau berkembang sih kayaknya jalan terus (ke samping terutama..he2)
kehidupanku juga masih seputar berkutat sebagai koass di rumah sakit

tapi lingkunganku ternyata banyak berubah..
setahun yang lalu ada sepupu yang tinggal bersamaku di Bandung
kini, rumah itu semakin dingin karena hanya dihuni aku seorang, brrr...!!
(mudah-mudahan gak makin angker, terus terang aku penakut!!)

setahun lalu, tanteku masih berada di Sumedang
aku masih ingat senyumnya, pelukannya yang erat, bau nafasnya,
rambut ikalnya dan bau harum kamarnya...
atau rasa kue buatannya, kaus kaki rajutannya, taplak sulamannya..
serasa baru kemarin aku bertemu dengannya
kini, tanteku masih berada di Sumedang
tapi yang kini kutemui bukan senyum hangatnya atau wangi kuenya
melainkan seonggok tanah dan sebuah nisan yang menyambutku dengan dingin
mengingatkanku kelak kami akhirnya juga akan bertemu
di waktu yang lain, di tempat yang berbeda pula..

waktu terus bergulir
begitu juga lingkaran kehidupan..
ada yang diambil
ada juga yang datang

tahun ini
belum genap dua bulan
aku dihadiahi keponakan yang cantik dan lucu
senyum dan tawanya (lebih banyak tangis sebenernya..)
memberi warna baru dalam kehidupanku

esok ..
akan semakin banyak warna dalam hidupku..
merah, biru, kuning, hitam, putih, ungu, pink,...
semoga pula aku dapat melukisnya
menjadi lukisan terindah dalam hidupku..
dalam bingkai Rahman dan Rahim-Mu..

Tuesday, August 16, 2005

bening

kapan hati ini bisa sebening kau, wahai air?

Friday, May 27, 2005

seminggu..

seminggu kemarin kok cepat sekali berlalu
Minggu, pulang ke Sumedang ikut pengajian untuk kehamilan kakak..
Senin, hmm rapat pengurus BSMI, selain itu di rumah terus..
Selasa, hari libur yang sempurna, makan, nonton, masak keroket, nonton...
(pantesan pinggang tambah sesak)
Rabu, lumayan.. lari pagi dikit tambah aerobik di Pajajaran...
(ehm, pinggangnya kembali ke ukuran semula..mudah2an..)
Kamis, at home all day, bongkar2 bahan buat masuk bagian Dalem..
(hasilnya, diktat pemeriksaan fisik tamat...3 lembar!)
Jumat, bantuin temen kasih materi jurnalistik ama anak SMP..
( bikin inget buat buka blog dan nulis2..)
Oh..gak kerasa hampir seminggu dari waktu libur kulewati
bingung antara mengosongkan otak agar tersisa sedikit tempat untuk menerima ilmu baru
atau manasin otak biar jalannya gak keseok-seok selama di menimba ilmu itu..
masih ada 2 hari lagi...
mudah2an bisa tercapai dua2nya...
ayolah otakku...bukalah pintu-pintumu menuju ruang-ruang kosong yang belum terisi..

penyesalan di minggu yang tak kan terulang lagi...
mengapa penyesalan datangnya di akhir?
karena penyesalan tak pernah datang di awal...
bukan sebuah jawaban sepertinya...


Friday, March 18, 2005

Arti sebuah NAMA....

Apalah arti sebuah nama...

Orang boleh bilang kalau nama itu tidak memiliki arti, tapi buatku itu SANGAT bermakna.
Dari sebuah nama kita bisa punya banyak cerita. Seperti ini kira-kira...

cerita pertama:
Dulu....dulu... 23 tahun yang lalu atau tepatnya 23 tahun 9 bulan yang lalu, saat kedua orang tuaku mengetahui akan memiliki anak kedua, terlintas sekian banyak nama dalam pikiran mereka. nah, dari sekian banyak tersebut keluarlah satu sebagai pemenang.. FAULIZA.
Menurut orang-orang namaku itu agak aneh, gak lazim gitu (terus terang KADANG aku pun berpikir begitu).

Setelah usut punya usut.. ternyata ada kesamaan dalam nama kakak dan adikku; Maria FAiZarani, FAuliZa Rakhima, Agung FAuZan. sudah dapat persamaannya? Yup.. sama-sama ada FA... dan Z... nya kan? ternyata pula ayahku bernama FAuZi. jadi kalau orang Barat punya nama keluarga, aku juga punya.. FA... dan Z.. he, he,..

cerita kedua:
nama juga bisa berevolusi, namaku contohnya..

sejak kecil hingga SD aku dipanggil IMA...
lalu di SMP teman-teman panggil aku PAUL, PAULISA, atau IMA.
(keterangan: kalau dibaca kesannya keren ya dipanggil PAUL, tapi jangan salah sangka, teman-teman pada panggil aku PAUL karena namaku dibaca dalam bahasa Sunda. 'F' --> 'P' dan 'Z' --> 'S', jadilah PAUL atau PAULISA)

terus di SMA namaku jadi makin aneh.. IMEH..
(haloo... bisa bicara dengan IMEH?
Siapa.. IMAH??
IMEH teh...
IPEH??
IMEH... mmm....maksudnya fauliza..
Oh.. IMA.. bentar ya dipanggil dulu...
IMAA... eh, IMEEEEHHH!!! ada telepon tuh! Hua..ha..ha.. sejak kapan dipanggil IMEH hah?
hiks.. sampe orang rumah aja pada ngakak denger nama panggilanku...)

satu-satunya pelipur lara adalah suatu saat kelak namaku akan berubah jadi MAMA atau UMI saat dipanggil sama anak-anakku ....he..he....


to be continued....

Saturday, December 11, 2004

My fave poetry from Taufik Ismail

MENCARI SEBUAH MESJID
(Taufik Ismail)


Aku diberitahu tentang sebuah mesjid yang tiangnya dari pohon di hutan,
pondasinya dari batu karang dan pualam pilihan.
Atapnya menjulang tepat tersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang,
berkilau digosok topan kutup utara dan selatan.
Aku rindu dan mengembara mencarinya.

Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan
dihiasi dengan ukiran kaligrafi Al-quran dengan warna platina dan keemasan,
bentuk daun - daunnya serta teratur, serta sarang lebah yang demikian geometrisnya,
ranting dan tunas jalin menjalin bergambar garis putaran angin.
Aku rindu dan mengembara mencarinya.

Aku diberitahu tentang sebuah mesjid yang menara - menaranya menyentuh lapisan ozon,
dan menjeru azan tidak habis - habisnya, mengikat pinggang dunia.
Kemudian waktunya yang lepas - lepas disulam malaikat menjadi renda - renda benang emas yang memperindah ratusan juta sejadah disetiap tempatnya singgah.
Aku rindu dan mengembara mencarinya.

Aku diberitahu tentang sebuah mesjid yang letaknya dimana kita waktu azan dhuhur
engkau masuk kedalamnya engkau berjalan sampai waktu azhar tak kau sampai saff pertama, sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu bersholat dimana saja,
dilantai langit ini, yang luasnya luar biasa.
Aku rindu dan mengembara mencarinya.

Aku diberitahu tentang ruang sisi Mihrabnya.
Yaitu sebuah perpustakaan tekterkira besarnya,
dan orang - orang dengan tenang membaca didalamnya,
dibawah gantungan lampu - lampu kristal dibuat dari berlian yang menyimpan cahaya matahari.
Kulihat bermiliar - miliar kata dan huruf masuk beraturan
kesusunan urat saraf manusia dan menjadi ilmu yang berguna.
Disebuah perpustakaan yang bukunya berjuta - juta,
terletak sebelah menyebelah dengan mesjid kita.
Aku rindu dan mengembara mencarinya.

Aku diberitahu tentang sebuah mesjid yang beranda dan ruang didalamnya, tempat orang - orang bersiraturahmi bersama dan bermusyawarah.
Tentang dunia dengan hati terbuka dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian, dan kalaupun ada pertikaian disitu dan diuraikan dalam simpul persaudaraan sejati dalam hajat yang itu juga tentang disebelah mesjid yang sama.
Aku rindu dan mengembara mencarinya. dimanakah dia gerangan letaknya.

Pada suatu hari aku mengikuti matahari menjolok kedalam
ketika dipuncaknya tergelincir empat lewat seperempat kwardat turun kebarat,
dan terdengan merdunya azan dipegunungan,
dan akupun melayangkan pandangan, mencari mesjid itu kekiri dan kekanan,
ketika seseorang yang tidak aku kenal membawa sebuah gulungan,
dan dia berkata " Inilah dia mesjid yang dalam pencaharian tuan. "
dia menunjuk tanah ladang itu dan diatas tanah pertanian.
Dia bentangkan secerik tikar pandan, kemudian dituntunnya aku kepancuran,
airnya bening dan dingin mengalir teratur, tanpa kata dia berwudu duluan,
akupun dibawa air itu menampungkan tangan,
hangat air yang terasa, bukan dingin,
kiranya bercampur dengan airmataku yang bercucuran

Bagaimana mungkin...

Bagaimana mungkin aku bersedih
Jika Ia datang menghibur


Bagaimana mungkin aku khawatir
Sedang Ia telah memastikan

Bagaimana mungkin aku gelisah
Sedang Ia adalah ketenangan

Bagaimana mungkin aku sengsara
Sedang Ia menemaniku

Bagaimana mungkin aku mengeluh
Sedang Ia memberi karunia

Bagaimana mungkin aku menjerit
Sedang Ia mendengarku

Bagaimana mungkin aku terkapar
Sedang Ia adalah Penyembuh

Bagaiman mungkin aku miskin
Sedang Ia Maha Kaya

Bagaimana mungkin aku terkalahkan
Jika Ia memenangkanku

Maka kularutkan buih-buih jiwaku dalam Nyanyian Asmara Musa
“Wahai Musa, kenapa ketika Aku sakit,
kau tak menjengukKu?”

Wahai Tuhanku, Wahai Sari Hubb, Wahai Tujuan harapan dan Doa
Wahai Yang selalu kuseru

by Dimitri Mahayana


Monday, November 29, 2004

Once upon a time in Sumedang...

Seperti sebagian besar teman-temanku yang lain, menjelang Lebaran kemarin aku pulang ke rumah orang tua di Sumedang. Perjalanan ke sana sebenarnya cukup menyenangkan bila tidak diusik rasa mabuk karena jalan yang berliku-liku karena pemandangannya yang indah, pepohonan hutan di kanan jalan dan jurang dalam di kiri jalan.
Keluargaku yang tinggal di Sumedang adalah Papa, Mama, Nenek, Agung-adikku, dan Ceu Oom-seorang pembantu rumah tangga yang sudah bekerja sejak aku kelas 5 SD... berarti sudah sepuluh tahun lebih. Ceu Oom sangat baik, tetapi sehari setelah kedatanganku ia harus pulang juga ke Garut, kampung halamannya. Dengan demikian tugas mengurus nenek yang selama ini dikerjakan Ceu Oom diserahkan padaku.
Nenekku sudah berumur kurang lebih 73 tahun. Dulu nenek pernah terserang stroke sampai dua kali dan kini dokter mengatakan nenek terkena penyakit Parkinson yang menyebabkan tangan nenek selalu bergerak-gerak seperti gerakan mengetuk meja, otot-ototnya pun kaku sehingga kedua kakinya selalu tertekuk dan tak dapat lagi berdiri. Sehingga nenek memerlukan kursi roda. Hal yang membuatku sedih (apalagi mama sebagai anaknya..) adalah nenek sering tak ingat kami, keluarganya.
Pagi hari saat kubuka pintu kamarnya dan menyapanya, nenek tersenyum sambil berkata, "sia namo?". siapa nama? "Ini ima, nek! cucu nenek..", jawabku. Lalu nenek hanya termangut sambil tersenyum, entah ingat atau tidak. Di lain waktu kami memanggilnya ibu Saliana. Saat mendengar namanya di sebut, nenek tertawa dan berkata, "ya, ya, awak Saliana... "(ya, ya, saya Saliana). Senangnya mendengar ada hal yang diingat nenek....
Jika hati nenek sedang senang (karena nenek juga suka merajuk dan marah tanpa sebab yang jelas dan kalau sudah begitu nenek jadi seperti anak kecil yang harus dibujuk agar hilang marahnya), beliau bisa mengingat nama anak-anaknya sambil kami perlihatkan foto-foto keluarganya. Yang membuatku bangga (walaupun aku tak tahu apakah hal itu patut dibanggakan), ada sebuah lagu Jepang yang sangat diingat nenek. Dulu nenek seorang guru dan pada masa penjajahan Jepang mengajarkan lagu ini pada murid-muridnya. Lagu itu hanya aku yang hapal karena saat nenek masih sehat, beliau sering menyanyikannya bersamaku. Sekarang bila aku menyanyikannya di depan nenek, nenek mengikuti dengan bersemangat. memang tidak setiap kata nenek ingat, tapi saat lagu itu selesai, nenek tersenyum lamaaaa sekali, seakan-akan kenangan masa lalunya kembali hadir dalam pikirannya... mungkin hal ini yang membuatku senang dan bangga...
Menceritakan tentang nenek mengingatkanku pada sebuah cerita yang pernah kubaca dalam Chicken Soup. Seorang gadis bercerita tentang pengalamannya menjenguk neneknya di panti jompo. Neneknya tersebut dulu sangat menyukai es krim sehingga ia bersama ibunya membeli es krim sebelum mereka pergi ke panti jompo. Saat bertemu, neneknya tak mengenalinya maupun ibunya tapi saat disodorkan es krim, neneknya tersenyum dan berkata, "aku suka es krim". Si gadis bertanya pada ibunya mengapa neneknya tak mengenali mereka. Ibunya lalu berkata, " nenek memang tidak ingat pada kita, tapi nenek ingat pada cinta kita..."
Mudah-mudahan nenek juga ingat bahwa aku, Mama, Papa dan semua keluarganya selalu menyayangi nenek...

Thursday, November 04, 2004

Empati seorang dokter

Hari ini aku baru saja belajar mengambil darah dalam rangka masa pra-ko. jauh- jauh hari sebelumnya aku sempat tanya sama teman, "sakit gak sih?", "susah gak ngambilnya?" atau "jarumnya besar gak?". gak kebayang aku bakal takut sama yang namanya disuntik, padahal kan aku calon dokter yang nantinya jarum suntik udah kayak sendok garpu buat makan, alias itu jarum suntik adalah barang wajib buat para dokter.

korban pasangan belajar nyuntikku adalah dian, setelah sepakat untuk saling hati-hati dan berusaha menyakiti sesedikit mungkin, kami pun mulai. aku dapat giliran pertama buat jadi korban. setelah dilihat-lihat ternyata vena di tangan kananku lebih keliatan dan akhirnya itulah yang dipilih sebagai titik sasaran jarum suntik dian. jujur aja, selama dian ngambil darahku aku gak berani liat sama sekali... yang kerasa cuma saat jarumnya masuk dan keluar, yah kayak digigit semut. he.. he.. ternyata tidak sesakit yang aku bayangkan.

sekarang giliran dian buat diambil darah. setelah melihat, memperhatikan dan menimbang, akhirnya kuputuskan tangan kiri dian yang akan kusuntik. dari awal aku sempet ragu karena venanya gak keliatan dan cuma samar-samar biru. tapi dengan modal nekat aku tusukkan juga jarumnya. masuk 1 cm, tarik... gak ada yang keluar. masuk lagi 0,5 cm... gak ada juga.. yak 0,5 cm lagi deh... kok tetep kosong?? akhirnya aku terpaksa menarik jarumnya keluar. Ups... dian terpekik kesakitan... rupanya aku terlalu cepat mencabut jarumnya. maaf ya dian..!

aku gak kepikir dian bakal dengan rela menyodorkan tangannya yang satu lagi.. duh baiknya kau dian... untunglah yang tangan kanan ada pembuluh yang bisa terlihat walaupun letaknya agak di pinggir. jadi mulaillah aku menusuk lagi, dengan lebih hati-hati tentunya! alhamdulillah, senengnya waktu itu darah keluar memasuki ujung spuit. hati-hati aku tarik jarum dan menghisap darah dian kurang lebih 0,5 cc. lalu jarumnya aku tarik keluar pelan-pelan.. fiuuh!!! beres juga.. makasih banyak dian, yang merelakan kedua tangannya untuk kusuntik..

Hmmm lewat latihan mengambil darah ini aku belajar bahwa rasa empati pada seorang dokter memang sangat diperlukan. karena yang akan dihadapi adalah manusia yang sama-sama punya rasa sakit sehingga dokter tidak bisa sembarangan memperlakukan pasien seperti patung.
aku jadi ingat, kakakku yang lulusan FKG juga punya pengalaman serupa. sebelum masuk ko-ass mereka harus saling menganatesi mulut temannya. aku pernah dianastesi sama dokter gigi dan itu lebih sakit daripada diambil darah. yah setidaknya rasa sakitku waktu diambil darah gak seberapa dibandingkan kalau harus dianastesi mulut. yah, masih banyak yang harus kupelajari sebelum aku bisa jadi dokter yang baik, dokter yang punya rasa empati untuk pasiennya...